Tampilkan postingan dengan label Seputar Samarinda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Samarinda. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Januari 2011

Masyarakat Dayak Kecam Pernyataan Guru Besar UI



PONTIANAK. Ratusan masyarakat Dayak dari berbagai elemen mengecam Thamrin Amal Tomagola, guru besar dan Sosiolog Universitas Indonesia (UI) dengan menggelar unjuk rasa, Sabtu (8/1) pagi kemarin. Hal ini terkait pernyataan Thamrin saat menjadi saksi ahli video asusila Ariel Peterpen.
Thamrin hadir dalam sidang Ariel, Kamis 3 Desember 2010. Seusai memberikan keterangan sebagai saksi ahli, kepada wartawan Thamrin menyatakan, video porno dengan pemeran mirip Ariel tidak meresahkan bagi sebagian masyarakat Indonesia. Menurutnya, sebagian masyarakat Indonesia menganggap hal itu biasa, termasuk di suku Dayak.
Bahkan Thamrin mengungkapkan dari hasil penelitiannya, di suku Dayak bersenggama tanpa diikat perkawinan oleh sejumlah masyarakat sana sudah dianggap biasa. Malah, hal itu dianggap sebagai pembelajaran seks.
Atas pernyataan Thamrin inilah sejumlah elemen masyarakat Dayak Kalbar bereaksi. Bahkan pada waktu yang sama unjuk rasa ini digelar juga digelar di Palangkaraya, Kalteng dan Hotel Indonesia, Jakarta.
Masyaraakat Dayak meminta kepada Thamrin untuk mencabut dan mengklarifikasi pernyataannya. Ia pun harus membuat permintaan maaf secara terbuka terhadap masyarakat dayak. Tidak hanya itu, sebagian massa meminta agar Thamrin dikenakan hukum adat. Bahkan meminta kepada Forum Rektor, untuk meninjau ulang gelar Prof dan DR yang disandang Thamrin.
Sebelumnya massa menggelar ritual adat di rumah Betang yang dipimpin seorang temengung adat, berupa pemotongan seekor ayam jantan. Setelah itu, massa konvoi menuju bundaran Digulis Untan dengan menggunakan kendaraan. Usai berorasi di digulis Untan, massa pun melanjutkan ke kantor Dewan Provinsi Kalbar dengan cara longmach.
Koordinator aksi dan sekaligus bendahara Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) wilayah Kalbar, Marselina Maryani SHut mengungkapkan, masyarakat Dayak merasa dirugikan dengan pernyataan atau kajian ilmiah yang berbau fitnah dan mendiskriditkan nilai-nilai luhur adat Dayak.
Perasan masyarakat Dayak terlukai karena pernyataan Thamrin sudah menyinggung harkat dan martabat Dayak, dimana masyarakat Dayak sampai saat sekarang masih menjunjung tinggi norma-norma kehidupan dalam bermasyaraakat. "Pernyataan Thamrin selain fitnah, juga sudah mencemarkan nama baik suku Dayak di kancah Nasional. Untuk itu, dia (Thamrin, red) harus pertangungjawabkan pernyataannya. Maaf saja tidak cukup, harus diberi sanksi berupa hukum adat dan hukum negara," kata dia
Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Henry Lisar menyatakan protes keras terhadap pernyataan sosiolog UI Thmarin bahwa dikalangan masyarakat Dayak yang menggangap bersenggama tanpa ikatan perkawinan sebagai hal biasa. Selama ini masyarakat dayak berpegang teguh pada prinsip "Adil Ka Talino, bacuramin ka' Saruga, basengat ka' Jubata". Maka pernyataan Thamrin tersebut wajib dipertangungjawabkan karena sangat menyinggung perasaan, harkat dan martabat serta mencederai prinsip-prinsip yang menjadi pegangan hidup masyarakat Dayak.
"Untuk menghindari trjadinya disharmonisasi maupun konflik yang dapat merusak sendiri-sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara, khususnya masyarakat Dayak, maka Thamrin wajib mempertangungjawabkan perbuatannya didepan hukum dan hukum adat dayak yang berlaku. Sudah sepantasnya Thamrin mengungkapkan permintaan maaf secara terbuka melalui media cetak dan elektronik kepada seluruh masyarakat Dayak," katanya.(uni/jpnn)

Jumat, 07 Januari 2011

Akibat Drainase Minim

Soal Banjir Loa Bakung, Rencana Bangun Bendali

SAMARINDA. Banjir besar di Loa Bakung, Sungai Kunjang, Rabu (5/1) siang lalu yang merupakan sejarah pertama itu juga diakui Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) Kota Samarinda.
Sesuai hasil monitoring pihaknya selama ini, Loa Bakung memang sangat jarang direndam banjir. Kalaupun ada, hanya banjir-banjir kecil. Diakui memang saat itu kondisi air Sungai Mahakam sedang pasang. Namun begitu drainase di wilayah tersebut masih sangat minim. Bahkan nyaris tak ada.
"Karena alirannya tidak jelas, sehingga bikin banjir. Secara kebetulan, hujannya juga cukup deras sehingga wajar kalau banjir," ujar Kepala DBMP Kota Samarinda, Ir Dadang Airlangga MMT kepada Sapos.
Selain itu, hal yang menjadi faktor penting dan sangat menentukan, yakni pengupasan lahan yang tak diimbangi dengan penyediaan kolam penampungan atau bendungan pengendali (bendali). Pengupasan yang dimaksud Dadang itu, baik untuk kepentingan tambang maupun pematangan lahan untuk perumahan.
Namun begitu DBMP juga merasa memiliki tanggungjawab. Karena itu, sesuai rencana akan ada pembangunan bendungan pengendali (Bendali) di Loa Bakung. Hanya saja, ia belum berani memastikan waktu pelaksananya. Pasalnya, semua itu disesuaikan dengan kesanggupan anggaran yang dimiliki Pemkot.
"Tapi itu pasti ada (pembangunan bendali, Red). Hanya waktunya yang belum bisa dipastikan. Karena Loa Bakung itu perlu bendali," tukasnya. (yes)

Rabu, 05 Januari 2011

Bencana Alam Samarinda Diterjang Banjir

Laporan wartawan KOMPAS Ambrosius Harto
Rabu, 5 Januari 2011 | 11:42 WIB
Kompas/Ambrosius Harto
Hujan deras dan drainase yang tidak berfungsi optimal menimbulkan banjir yang merendam kawasan Jalan Cendana di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (23/9) sore. Banjir juga merendam kawasan lainnya yakni Jalan Banggeris, Jalan Antasari, Jalan Juanda, dan kawasan simpang empat Vorvoo. Kompas/Ambrosius Harto

SAMARINDA, KOMPAS.com - Hujan deras sejak Rabu dini hari (5/1/2011) mengguyur Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Saluran air tidak mampu menampung hujan dan meluap sehingga merendam sebagian besar wilayah Kota Samarinda.

Banjir berketinggian hingga satu meter merendam sejumlah ruas utama seperti Jalan Basuki Rachmat, Jalan Lambung Mangkurat, Jalan Dr Soetomo, Jalan Mayjen Sutoyo, dan Jalan A Yani.

Banjir juga merendam kawasan pertemuan ruas-ruas utama tadi seperti simpang empat Air Putih, Air Hiitam, Vorvoo, Sempaja, dan Cendrawasih.

Banjir yang cukup tinggi itu membuat pengendara memutar memilih jalur lain agar kendaraan tidak terjebak dan atau tidak mogok. Pengendara sepeda motor yang nekad menerabas banjir tinggi seperti di Jalan Lambung Mangkurat terkena sial. Mereka terpaksa mendorong sepeda motor akibat mesin mati kemasukan air.